Suku Dayak : Mengelola Potensi Emas dengan Kearifan Lokal

Tulisan kali ini sengaja tidak saya lengkapi dengan petunjuk lokasi secara detail karena saya perkirakan jika saya menuliskan dimana lokasi cerita di bawah ini terjadi maka akan terjadi hal-hal yang kurang baik bagi masyarakat.

sungai x yang mengandung emas

sungai x yang mengandung emas

Suatu ketika saya berjalan-jalan di daerah hulu / pedalaman sebuah daerah di Kalimantan Barat dan bertemu dengan Kepala Desa, Ketua Dewan Adat Dayak, dan beberapa tokoh masyarakat. Mereka bercerita bahwa di salah satu sungai kecil di tengah hutan ada penambangan emas rakyat. Menarik bagi saya karena tambang emas rakyat ini katanya tanpa menggunakan air raksa dan mercuri, jadi tambang emas tanpa zat kimia, atau bahasa kerennya tambang emas dengan metode fisikawi.

Akhirnya kami bersepakat untuk meninjau lokasi tersebut. Perjalanan sekitar 5 km menembus hutan dan sedikit melintasi rawa akan mengasikkan. Beberapa ruas sungai harus kami sebrangi dengan melewati titian pohon yang tumbang, pohon yang baik hati karena mau menumbangkan diri demi manusia supaya dapat menyebrangi sungai untuk mencari nafkah.

Selama 1 jam perjalanan kami tempuh dengan langkah cepat karena mengimbangi penunjuk jalan yang berjalan cepat dan tangkas membelah rimba tempat mereka hidup. Akhirnya kami bertemu dengan muara sungai kecil hanya selebar 1 meter. Sungai tersebut sangat tenang, jernih, yang bagi saya melambangkan keteduhan khas kalimantan. Saya ambil kertas lakmus (pH Meter untuk mengukur keasaman air) dan ternyata pH menunjukkan angka 5,5, masih layak minum dalam kondisi darurat. Lalu kami pelan-pelan jalan menyusuri sungai, kadang berjalan di tepi kadang harus berjalan di dalam sungai. Beberapa kali saya temui ikan-ikan yang masih segar berenang dalam sungai yang jernih, saya mengambil kesimpulan sungai ini masih belum tercemar.

Akhirnya di tengah keheningan sungai saya bertemu dengan seseorang yang sedang menggali lubang di tepi sungai. Penduduk asli sekitar yang ternyata pemilik lahan berdasarkan status hak ulayat. Pembagian lahan di suku dayak adalah berdasarkan aturan hak ulayat. Pertama kali ketemu saya berbasa-basi bertanya, tetapi selalu jawab tidak tahu, dan tidak tahu. Dari porter yang membawa saya ketahui bahwa orang tersebut adalah warga dari Suku Dayak Kanayatn, akhirnya saya sapa dengan bahasa Kanayatn/Ahe yang sempat saya pelajari sewaktu saya bekerja di Kabupaten Landak Kalbar. Maka mulailah percakapan mengalir dengan hangat, bahkan saya sempat dikira bukan orang jawa tapi orang dayak kanayatn.

menggali lubang mencari emas

menggali lubang mencari emas

Dengan tenang orang tersebut menggali sekop-demi sekop tanah dikeluarkan untuk mencari di mana kira-kira ada emas sehingga bisa di dulang. Lubang yang digali tidak terlalu dalam, hanya sekitar 2 meter. Ini beda dengan yang saya temui di tempat lain, sekitar 60 km dari tempat ini ada juga tambang rakyat tapi sudah menggunakan zat kimia, lubang yang digali pun sampai 50 m, sehingga perlu ada pasokan oksigen dengan menggunakan blower. Sangat berbahaya dan hampir mengindahkan keselamatan kerja demi meraup rupiah.

Untunglah yang saya temui kali ini tidak seperti tambang-tambang rakyat yang lain, atau seperti PETI (Pertambangan Tanpa Ijin) yang menggunakan alat berat atau alat semprot dengan tekanan sangat tinggi sehingga potensi longsor sangat besar.

Setelah tanah digali dan diduga ada yang mengandung emas, maka bahan galian tersebut dikeluarkan dengan sekop untuk didulang, ditempatkan di tempat yang lebar seperti piring kerucut, digoyang-goyang dengan bantuan air, dan elemen-elemen tanah dan yang selain emas akan laur. Sehingga akan tertinggal pasir lembut atau emas.

mendulang emas dengan sabar

mendulang emas dengan sabar

Dalam satu tempat galian biasanya ada 2 orang, 1 penggali dan satu yang dulang emas. Mereka akan bergantian, dan hasilnya akan dibagi dua secara rata. Pendulang emas akan hati-hati sekali meperlakukan bahan galian. Dengan putaran yang halus dan stabil mereka akan memutar alat dulang sehingga bahan-bahan lain larut dalam air. Perlu keahlian dan kesabaran dalam menduluang emas ini.

Saya terkejut, karena emas yang didapatkan dari proses pendulangan secara manual tanpa zat kimia ini ternyata menghasilkan emas butiran besar-besar. Ada yang seukuran biji beras. Bahkan pernah juga didapai butiran emas dalam ukuran 1 gram. Emas dalam ukuran debu juga banyak ditemukan. Dengan hasil emas seperti ini pasti akan menimbulkan keributan besar jika khalayak ramai mengetahuinya.

Saya sempat bertanya berapa rata-rata emas yang didapatkan setiap harinya, ternyata untuk satu kelompok yang terdiri dari satu orang penggali dan satu orang pendulang bisa mendapatkan 5-8 gram per hari. Mereka menjual emas mentah tanpa diolah dengan aor raksa dan merkuri tersebut 1 gram Rp. 200.000. Harga yang cukup murah.

mengais emas

mengais emas

Kenapa saya katakan murah, karena ternyata  emas yang dijual kadarnya cukup baik, dan yang kedua untuk mendapatkan emas tersebut orang harus bekerja keras dengan hidup di dalam hutan. Makan seadanya dengan menu favorit mi instan dan ikan tuna dalam kaleng.

Mendulang juga butuh kesabaran, ketelitian, ketahanan tubuh yang hebat. Selama satu hari mereka harus berendam dalam air, dengan tubuh menggigil. Belum lagi jika ada kasus perampokkan, memang di tempat ini belum terjadi tindak kejahatan, karena baru berjalan selama 1 minggu, dan sangat jarang orang yang tahu kegiatan ini, hanya masyarakat sekitar saja. Saya malah berharap tidak ada orang yang tahu lagi. Beberapa kejadian di tempat lain tentang kejahatan dengan korban pendulang emas sangat banyak. Penjahat-penjahat sudah jeli mengincar orang yang keluar dari tempat pendulangan emas, kerana mereka menganggap bahwa orang tersebut  pasti membawa emas yang akan dijual di kota/pasar. Mari kita hitung, jika satu hari rata-rata 7 gram dan dalam seminggu mereka baru turun ke kota, maka sekitar 50 gram emas yang dibawa siap jual. Tentu ini jumlah yang sangat menggiurkan bagi para penjahat.

hasil selama setengah hari kerja

hasil selama setengah hari kerja

Saya menemukan nilai-nilai kearifan lokal yang masih dilaksanakan para pendulang emas tradisional ini yaitu :

  • Mendulang emas  tanpa menggunakan air raksa dan mercuri.
  • Tidak menggunakan mesin menhisap atau penyemprot tekanan tinggi, semua proses secara manual dengan tenaga manusia.
  • Menggali lahan per bagian, tidak eksploitasi secara besar-besaran.
  • Bekerja dengan pembagian yang adil dengan teman kelompok dan pemilik lahan.

Dengan kearifan lokal ternyata alam bisa dikelola dengan baik dengan meminimalisasi kerusakan lingkungan. Dampak terhadap alam pasti ada, tetapi bagaimana mengelola dampak tersebut sehingga menjadi manfaat yang besar bagi masyarakat sekitar yang bermuara pada kesejahteraan dan peningkatan kualitas hidup manusia, itulah yang harus dipikirkan dan dikelola.

~ by Stanislaus Riyanta on July 16, 2009.

One Response to “Suku Dayak : Mengelola Potensi Emas dengan Kearifan Lokal”

  1. lokasinya di mana ya……. mau donk ke sana.

Leave a Reply