Pendidikan Mahal, LOGIS DAN REALISTIS

Sejak dulu saya punya pendapat bahwa pendidikan adalah jalan terbaik untuk meningkatkan kualitas hidup manusia secara berkelanjutan. Pendidikan formal dan non formal akan membawa manusia berpikiran lebih maju dan siap menghadapi dinamika hidup yang semakin berkembang seiring dengan kemajuan teknologi.

Untuk menuju sebuah pencapaian taraf pendidikan yang baik dan sesuai dengan kebutuhan, maka manusia perlu menempuhnya baik secara formal maupu nom formal. Kali ini saya akan berbagi opini tentang korelasi antara biaya dengan kualitas pendidikan.

Saya akan sajikan opini mengenai mahalnya pendidikan. Pendidikan yang berkualitas itu membutuhkan biaya yang besar, itu logis dan realistis. Mari kita lihat dari mulai hal yang paling sederhana. Dalam satu kelas yang berisi 30 murid diperlukan 2 orang guru. Seorang guru mengajar dalam satu minggu idealnya adalah 24 jam pelajaran. Selama satu minggu murid memerlukan 42 jam pelajaran dari setiap hari 7 jam pelajaran. Untuk menggaji seorang guru ideal sehingga dia tidak perlu melakukan pekerjaan sambilan dan tetap profesional sebagai guru, maka upah layak sekitar Rp. 3.000.000,-. Sekarang kita hitung komponen untuk menggaji guru dalam sebuah kelas saja adalah 2 x Rp. 3.000.000 = Rp. 6.000.000. Maka tiap murid harus mengeluarkan Rp. 200.000 / bulan hanya untuk komponen penggajian guru. Belum komponen lain seperti buku, diktat, alat-alat lab habis pakai, biaya listrik, PAM dll. Jika dirata-rata komponen diluar gaji guru adalah Rp. 50.000 / bulan untuk tiap anak maka untuk biaya yang dikeluarkan setiap anak untuk mendapatkan pendidikan layak (minimal) adalah Rp. 250.000.

Komponen pendidikan tidaklah hanya seperti yang disebutkan di atas. Pembangunan sekolah, kegiatan ekstrakurikuler, buku-buku penunjang guru, peralatan multimedia dan komputer, dan kalau mau disebutkan lagi tentu masih jauh lagi.

Lalu bagaimana seorang anak bisa mendapatkan pendidikan yang layak jika dia adalah anak tidak mampu. Pemerintah sudah mendirikan sekolah negeri, sekolah yang dikelola negera. Guru-guru sekolah negeri tentu saja adalah Pegawai Negeri yang sudah digaji pemerintah. Dana BOS juga sudah dikucurkan pemerintah untuk dana kegiatan siswa. Walaupun masih banyak pungutan di sekolah negeri, idealnya anak tidak mampu harus bisa memperoleh pendidikan di sekolah negeri.

Masalah yang timbul adalah tidak semua anak bisa masuk sekolah negeri. Di luar masalah kapasitas/daya tampung sekolah negeri yang terbatas, diperlukan tes masuk untuk menjaring kemampuan siswa. Bagi anak yang mampu dari sisi ekonomi, tidak menjadi masalah seandainya dia tidak diterima bersekolah di sekolah milik pemerintah. Anak tersebut bisa sekolah di luar negeri, atau di sekolah swasta yang bermutu tinggi.

Nasib tidak baik akan dialami oleh anak yang tidak mampu secara ekonomi, dan tidak mampu secara akademis sehingga tidak mendapatkan tempat di sekolah negeri. Ana-anak seperti inilah yang harusnya dipikirkan negara. Sebenarnya banyak juga sekolah swasta dengan kualitas baik yang memberikan ruang untuk anak tidak mampu. Pengalaman saya sewaktu menjadi guru di sebuah sekolah swasta yang cukup favorit telah membuktikan bahwa sistem subsisdi silang sangat membantu anak-anak yang tidak mampu untuk tetap bersekolah.

Yayasan-yayasan yang bergerak di bidang pendidikan telah membuktikan bahwa sistem subsidi silang adalah penyelamat generasi muda dari ancaman putus sekolah. Tidak hanya subsidi silang dalam satu sekolah saja, tetapi lebih jaun lembaga-lembaga pengelola pendidikan banyak yang sudah menerapkan subsidi antar sekolah yang dikelola oleh satu lembaga.

Sekolah negeri harusnya mau meniru bagaimana cara sekolah swasta tetap hidup. Dengan kemandirian dan subsidi silang yang diterapkan terbukti bahwa andil sekolah swasta dalam mencerdaskan bangsa cukup besar.

Untuk memperoleh pendidikan yang baik memang butuh biaya besar, tetapi bukan berarti yang tidak mampu secara ekonomi tidak bisa bersekolah.

~ by Stanislaus Riyanta on August 2, 2009.

Leave a Reply